Buscar

aiyrapptika world :)

Negeri Kami

Tulisan ini sebenarnya sudah lama nongkrong di draft my blogie, cuma belum sempet saya rampungkan. Hari ini, akan coba saya rampungkan deh.. Lagian udah lama juga gak nulis, kasihan si nobi lagi butuh belaian lembut jari-jariku. hihi

Disini Negeri kami, tempat padi terhampar
Samuderanya.. kaya raya
Negeri kami subur Tuhan….
Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak buruh tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Tuk bebaskan rakyat
Padamu kami berjanji
Padamu kami berbakti

Have you hear this song? bagi para aktifis mungkin udah gak asing lagi sama lagu ini. Ya ini lagu kebangsaan kita saat kita turun ke jalan memperjuangkan hak rakyat. Lagu perjuangan mahasiswa yang lahir di era reformasi sejak menjelang jatuhnya Orde Baru.
Miris sekali, ketika kita cermati bait per bait dari lagu ini. Ya inilah negeri kami, negeri kami subur tapi masih banyak rakyat yang tak berdaya.
Katanya negeri ini sudah merdeka! Merdeka? Benarkah negara kita sudah merdeka?
Merdeka itu bebas, bebas dari semua hal yang mengikat. Kita bebas melakukan apapun sesuka hati kita tanpa ada batasan, tanpa ada peraturan yang mengikat, ya itulah bebas menurut hampir semua orang.
Tapi, benarkah negara kita telah bebas? bebas melakukan apapun tanpa campur tangan pihak lain?
Merdeka rasanya hanya milik sebagian orang, merdeka hanya bisa dirasakan oleh mereka-mereka kaum Borjuis. Merdeka tak bisa dirasakan oleh kaum proletar. Merdeka milik mereka, mereka yang berduit, mereka yang punya kekuasaan! piuh, sedih rasanya ketika ku lihat masih banyak rakyat yang susah dalam kemiskinan yang menerpanya, tak adil dalam kesenjangannya. Ya inilah negeri kita, potret negeri kita kawan...
Faktanya, apakah saat ini negeri kita tercinta ini telah terbebas dari campur tangan pihak lain? TIDAK!!!Negara kita tidak akan pernah merdeka ketika negara kita masih dijadikan tempat: 1) Pengerukan Sumber Daya Alam, 2) Wilayah penjual produk-produk pabrik, 3) Suburnya investasi modal dengan tenaga buruh murah. Lazimnya negara yang ada dalam kondisi tersebut tunduk pada perintah majikan luar negeri. Tidak itu saja, agar keberlangsungan bisnis terjamin, negara koloninya tidak dibolehkan menciptakan teknologi kemesinan. Teknologi yang dapat menciptakan produk-produk berteknologi tinggi. Negara majikan mengemban misi merusak mental dan otak rakyat negara koloni agar tetap menjadi penakut, ahistoris, apatis, inferior (menjunjung tinggi bangsa asing dan konsumeris. Miris, sungguh miris. Negara kita yang bernasib sebagai negara koloni bagi sang majikan luar negeri akan tetap seperti ini selama Presiden Indonesia masih dikendalikan, dipilih dan di-support negara-negara imperialis, jangan pernah optimis adanya perubahan nasih rakyat, kemerdekaan bagi seluruh rakyat apalagi terangkatnya harkat derajat bangsa ini sejajar dengan bangsa lain. Ini kita tunjukan kepada Presiden yang manut diperintah kaum imperialis.
Hemat saya, citra kinerja pemerintah tergambar dari awetnya kemelaratan rakyat dan akutnya dekadensi moral. kerusakan moral yang meliputi korupsi, pelacuran, perjudian, narkoba dan sebagainya. Hei kawan, ini bukan omongan yang sembarangan, menurut kenyataannya ya memang demikian. Presiden paska Soekarno hanya boneka asing, mereka mengiblat pada kepentingan bangsa asing atau terpaksa mengikuti skenarionya negeri penguasa.
Ayolah kawan, bangsa kita ini kaya raya. Andai para penguasa negeri ini memihak pada rakyat, kemerdekaan bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.