Buscar

aiyrapptika world :)

Pudarnya Pesona Seorang Akhwat 1

Oleh
Aisyah Az Zahra

Ketika hari menjelang sore, saat anak-anak lain sedang asik bermain, aku melihat tingkah yang berbeda pada sosok gadis kecil yang biasa kusapa “Eneng”.
Eneng itu seorang gadis kecil anak pertama dari empat bersaudara. Eneng berasal dari keluarga sederhana namun kaya ilmu agama. Aku melihat eneng berbeda dengan anak-anak seumurannya, bayangkan saja saat itu kerudung masih sangat jarang dikenakan bagi anak sekecil eneng, bahkan aku seorang pelajar SMP pun belum mengenakan kerudung tapi eneng seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku kelas empat SD sudah mengenakan kerudung yang menutupi tubuh mungilnya.
Aku mengenal eneng dan keluarganya, karena rumah kita sebelahan, aku sangat mengenal keluarga eneng karena Ibunya eneng menganggap kakakku sebagai adiknya karena saat itu, saat pertama kali kakakku pindah ke perumahan tempat kami tinggal sekarang, hanya keluarga enenglah yang dekat dengan kakakku. Aku senang sekali lihat eneng kecil, eneng gadis kecil yang ngegemesin, karena kebetulan kakakku gurunya eneng di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) eneng termasuk anak yang pintar, karena setiap tahun eneng selalu menjadi juara satu, bahkan dalam urusan hapalanpun eneng lebih pintar dari anak-anak lainnya. Setiap sore, sepulang sekolah TPA aku selalu melihat eneng menyapu halaman rumahnya, mungkin itu tugas yang Ibu eneng berikan padanya setiap hari, walaupun di rumah eneng ada pembantu rumah tangga namun eneng tidak diajarkan untuk manja. Sehabis magrib, aku selalu melihat eneng dan adiknya yang kedua pergi ngaji ke blok sebelah. Aku sungguh kagum pada eneng, eneng gadis kecil yang unik berbeda dengan anak seusianya yang manja.
Sayang, saat itu aku sudah kelas 3 SMP jadi aku harus pindah rumah dan gak tinggal di rumah kakakku lagi, aku ikut Ibuku pindah ke Aceh, mulai saat itu aku jadi tidak bisa melihat eneng dan kesehariannya lagi bahkan aku gak bisa main lagi sama eneng.

Beberapa tahun kemudian, saat aku kembali ke rumah kakakku dan tinggal disana untuk mengamalkan ilmuku ikut mengajar di TPA kakakku, aku melihat suasana rumah kakakku dan rumah eneng gak ada yang berubah hanya saja ada sedikit renofasi tapi aku tetap mengenal kedua rumah itu, bahkan halaman rumah eneng yang biasa ku lihat saat eneng menyapu pun masih seperti dulu.
Dan hari itu, aku sungguh sangat terkesima saat melihat seorang gadis berbusana muslim rapih tanpa terlihat sedikitpun auratnya, datang menghampiriku dan menyapaku
“Assalamu'alaikum Teh Salma...”
“Wa'alaikumsalam, ini eneng? Wah eneng sudah gede yah? Pangling teteh...hehe”
Begitulah eneng menyapaku, dan kami hanyut dalam obrolan lainnya, maklum sudah lama tak jumpa.
Subhanalloh, aku benar-benar kagum sama eneng, sekarang dia sudah dewasa bukan lagi gadis kecil yang kulihat dulu tapi dia tetap eneng kecil yang baik, pintar dan sholehah.
Hari-hariku dan eneng makin akrab, eneng tak sungkan untuk curhat padaku baik itu tentang organisasi di sekolahnya, tentang teman-temannya bahkan tentang guru-gurunya, aku sebenarnya merasa malu dan gak pantas untuk eneng mintai pendapat karena walaupun usiaku beberapa tahun lebih tua dari eneng tapi aku yakin akhlakku tak sebaik eneng. Eneng cerita padaku tentang semuanya, sampai pada cerita tentang sosok “ikhwan” sebutan eneng pada laki-laki, ternyata eneng tengah bingung karena belum lama ini ada teman SMPnya yang mengatakan siap untuk mengkhitbah eneng, padahal eneng belum siap, namun eneng tak ingin menyakiti temannya itu, menurut cerita eneng ikhwan itu termasuk seorang laki-laki yang baik, sholeh dan sangat menghargai perempuan, ikhwan itu saat ini tengah mencari ilmu di sebuah Pondok Pesantren terkenal di Pulau Jawa, Pondok Modern Gontor.
Ini bukan kali pertamanya eneng mendapat tawaran khitbah, ini kedua kalinya karena sebelumnya ada seorang mahasiswa UNPAD jurusan Ilmu Komunikasi, namun untuk yang itu eneng serahkan urusannya pada kedua orang tuanya, karena eneng benar-benar belum siap kepada siapapun namun, menurutnya yang ini berbeda. Tapi dengan tegas eneng, mengatakan
“Afwan akh, untuk saat ini ana belum siap akh, masih banyak yang harus ana uruskan dibanding ini, ana masih punya cita-cita yang ingin ana raih, ana mohon antum mengerti tanpa sedikitpun ana ingin menyakiti antum, percayalah jikalau Alloh menakdirkan kita untuk bersatu suatu hari Alloh pasti mempertemukan kita, afwan jidan akh....”.
Subhanalloh, kekagumanku pada sosok eneng semakin bertambah.

0 komentar:

Posting Komentar